Pemda TTU Jalin Sinergitas Perangi Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara bersepakat bersama dengan semua elemen memerangi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kesepakatan itu diramuh dalam diskusi dan ngopi bareng sambil musyawarah mufakat bersama membahas misi kemanusiaan yang dilaksanakan di aula rumah jabatan Bupati TTU, Senin (10/2/2020).

Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten TTU itu bekerjasama dengan Yayasan Amnau Bife Kuan (Yabiku) NTT, LSM IOM dan difasilitasi oleh Anggota DPR RI Ny. Kristina Muki Fernandes, S.Pd, M.Si. Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, S.Pt, Ketua DPRD TTU, Hendrik Bana, SH, Dandim 1618 TTU, Wakapolres TTU, Tokoh agama, Pimpinan OPD Pemkab. TTU, Pihak Perbankan dan pihak terkait lainya.

Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Sau Fernandes S.Pt dalam arahannya mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan dimaksud. Pasalnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten TTU dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Pemerintah, kata Fernandes sebatas penanganan di tingkat hukum namun setelah proses hukumnya selesai, penangan psikologi terutama bagi anak di bawah umur yang mengalami kekerasan tidak pernah tersentuh. Untuk itu, Bupati Fernandes mengharapkan selain adanya pendampingan namun juga harus ada rumah tunggu atau rumah aman.

Rumah tunggu yang dibangun, kata Bupati Fernandes, akan menampung untuk merawat para korban demi mendapat pendampingan hingga pulih secara psikologis. Selain itu, faktor budaya cenderung menempatkan perempuan dan anak pada posisi yang ke dua sehingga berpenganruh terhadap perlakuan yang dialami oleh perempuan dan anak. Ia mengharapkan semua yang dibicarakan terkait rencana aksi jangan sekedar tertulis namun harus diikuti tindakan nyata. Pasalnya, jika perempuan dan anak mengalami kekerasan maka suram masa depan daerah ini.

Kepala dinas Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten TTU, Petrus Nahak, menjelaskan, dinas P3A TTU mempunyai misi yang sangat besar tentang kemanusiaan. Untuk itu, tujuan dilaksanakannya kegiatan ngopi bareng sambil diskusi sinergitas penanggulangan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten TTU adalah untuk memaksimalkan pelayanan baik secara fisik, kesehatan dan lainya. Untuk itu, dengan adanya rumah aman atau rumah singga akan sangat membantu proses pelayanan para korban menuju rehabilitasi secara terfokus dan terarah sesuai manajemen dan tata kelola yang baik.

Lebih lanjut Petrus Nahak menjelaskan, dengan adanya rumah aman bagi korban maka akan sangat membantu pelayanan di bidang keamanan, psikologi, kesehatan dan rehabilitasi korban sebelum dipulangkan. Rumah aman tersebut direncanakan akan dibangun secara permanen di pusat Kota Kefamenanu agar lebih terfokus dan aman. Untuk perencanaan pembangunan rumah aman, kata Petrus Nahak, diharapkan masuk dalamĀ  perencanaan APBD II tahun 2021. Berdasarkan data tahun 2018 di P2A, secara akumulatif kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebanyak 74 kasus sementara di tahun 2020 tercatat sebanyak 71 kasus terhadap perempuan dan anak. Tren yang paling tinggi yakni kekerasan terhadap anak di bawah umur sebanyak 35, sementara lainya merupakan kasus pelecehan seksual, KDRT dan Penelantaran. Hal yang paling penting untuk diperhatikan yakni masyarakat masih enggan dan takut untuk melaporkan dan takut untuk menjadi saksi sehingga masih banyak kasus yang belum dilaporkan.

(apson)

Hits: 304