• Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1443 H Mohon Maaf Lahir & Batin
  • DIRGAHAYU RI 76
  • Pantai Wini - Insana Utara
  • Kapal Pesiar di Pelabuhan Wini Insana Utara
  • Pacuan Kuda di Tanjung Bastian
  • Kantor Bupati Kabupaten TTU
  • Kapal Pesiar di Pelabuhan Wini Insana Utara
  • Bukit Tuamese
  • Kantor DPRD Kabupaten TTU
  • PLBN Wini

Pemerintah Kabupaten TTU Gelar Upacara Pencanangan BBGRM 2022

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/5) menggelar upacara dalam rangka pencanangan bulan bakti gotong royong masyarakat (BBGRM) ke-19  yang dirangkaikan dengan hari kesatuan gerak PKK ke- 50 dan hari keluarga nasional ke-25 tingkat KabupatenTTU 2022. 

Bupati Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Drs. Juandi David memimpim  secara langsung pencanangannya   dengan upacara yang dilaksanakan di halaman Kantor Lurah Kefamenanu Selatan, Jumat (20/5/2022).Dalam kata sambutannya, Bupati Juandi mengatakan patut disyukuri beberapa kegiatan dapat dilakukan kembali setelah dua tahun tidak diselenggarakan karena pandemi covid-19.

Pandemi covid 19, beber Bupati Juandi, mengajarkan bagaimana membangun kerja sama, gotong royong, bahu membahu tanpa membedakan jabatan, suku, agama dan golongan. Seluruh elemen masyarakat, ujar Bupati Juandi, mulai dari tingkat terendah hingga tertinggi di negeri ini telah bekerja keras bersama menghadapi virus covid-19.

"Fakta membuktikan bahwa, atas kerjasama dan kegotong royongan semua pihak, perlahan kita mulai bangkit dan keluar dari pandemi covid-19,"imbuhnya.

Seharusnya, lanjut Bupati Juandi, nilai kegotong royongan dan kerja sama harus senantiasa tetap hidup dalam perilaku hidup sehari-hari bukan saja saat tertentu.

"Musuh bersama kita tidak hanya virus covid-19, namun sesungguhnya musuh bersama kita adalah kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Musuh bersama masyarakat tidak hanya virus covid-19, namun kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan,"tandas Bupati Juandi. 

Dikatakan, gotong royong adalah budaya dan tradisi masyarakat Indonesia yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum bangsa Indonesia berdiri sebagai sebuah Negara.

Presiden Pertama Ir. Sukarno, imbuh Juandi, bahkan menyatakan bahwa gotong royong adalah "jiwa" masyarakat Indonesia. Segala pekerjaan baik untuk kepentingan individu maupun kelompok selalu dikerjakan bersama - sama.

"Ungkapan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing" dan "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" merupakan cerminan prinsip yang mendasari budaya gotong royong masyarakat,"ujarnya. 

Pada masa lalu, jelas Juandi, hampir semua pekerjaan masyarakat dan pembangunan di desa selalu dilaksanakan secara gotong royong. Namun seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman, tradisi gotong royong masyarakat perlahan- lahan mulai tersisih dalam peradaban modern saat ini, baik di masyarakat perkotaan maupun masyarakat desa.  Melemahnya tradisi gotong royong ini disebabkan karena hampir semua bidang kehidupan masyarakat saat ini diresapi oleh semangat pasar, dimana segala hal diukur dengan uang dan dipasangi tarif.

"Di desa-desa misalnya,saat ini keterlibatan masyarakat dalam pembangunan desa selalu diperhitungkan dengan HOK (Hari Orang Kerja). Bila tidak ada HOK maka masyarakat enggan terlibat dalam pembangunan di desa. Kerja bhakti sukarela membangun desa yang dipraktekkan pada masa lalu sudah ditinggalkan,"kata Bupati Juandi. 

Kondisi ini, masih menurut Bupati Juandi, tentunya menjadi ancaman bagi jati diri bangsa Indonesia sehingga perlu ada upaya dari berbagai komponen masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah melaksanakan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat(BBGRM) pada setiap Bulan Mei.

Tahun ini, menurut Bupati Juandi adalah pelaksanaan BBGRM yang ke-19. Secara ideal, frekwensi 19 kali pelaksaanaan BBGRM seharusnya sudah berdampak pada peningkatan kualitas kehidupan gotong royong masyarakat. Namun hingga pelaksanaan BBGRM yang ke-19 ini, revitalisasi budaya gotong royong belum menampakkan hasil yang menggembirakan bahkan ada kesan pelaksanaan BBGRM setiap tahunnya hanya sebatas seremonial pencanangan seperti sekarang ini. Ataupun dilaksanakan namun tidak dilanjutkan sebagai sebuah kebiasaan ditengah-tengah masyarakat kita.

"Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya mengajak kita semua untuk mengkritisi bulan bhakli gotong royong yang kita laksanakan setiap tahunnya,"pintanya. 

Dan salah satu langkah yang dapat kita lakukan bersama adalah masing-masing pemimpin wilayah mulai dari Camat hingga kepala desa-perlu menetapkan jadwal bulanan, kegiatan yang bernuansa gotong royong ditengah-tengah masyarakat. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong yang sebenarnya merupakan budaya kita,"lanjutnya. 

Berhubungan dengan Hari Kesatuan Gerak PKK, Bupati Juandi menegaskan bahwa Tim Penggerak PKK adalah mitra sejati pemerintah yang setia mendukung pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pemberdayaan kesejahteraan keluarga adalah basis bagi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Indonesia hanya dapat dikatakan sejahtera apabila keluarga keluarga Indonesia sudah sejahtera.

"Maka Hari kesatuan gerak PKK hendaknya menjadi momentum bagi semua pihak, terutama TP. PKK dari tingkat kabupaten hingga ke tingkat desa, bahkan hingaa ke tingkat Dasa wisma untuk menyamakan persepsi, komitmen dan bersinergi bersama untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga,"ujarnya. 

Hari Keluarga Nasional, menurut Bupati Juandi, mau mengingatkan bahwa pembangunan keluarga sangat penting bagi kemajuan bangsa. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Hari Keluarga Nasional (Harganas), tanggal 29 Juni ditetapkan sehagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). 

Penetapan ini tentunya berangkat dari kesadaran akan pentingnya pembangunan keluarga sebagai basis pembentukan karakter bangsa. Oleh karena itu, Harganas merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kesadaran dan peran masyarakat terhadap pentingnya keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera.

Dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan berbangsa kepada anggota keluarga sejak dini, akan menjadikan keluarga sebagai wahana yang tangguh bagi terwujudnya keluarga yang berkualitas untuk mensukseskan misi kedua Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin, yaitu pembangunan sumber daya manusia.

Dalam mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera, salah satu permasalahan yang menjadi tanggung jawab kita bersama adalah permasalahan stunting.

Dan Kabupaten TTU merupakan salah satu kabupaten dengan angka stunting yang masih tergolong tinggi.  Maka saya harapkan melalui momentum Hari Keluarga Nasional ini, semua elemen yang terkait menanganani stunting dengan bersinergi, merapatkan barisan dan secara serius melakukan langkah-langkah nyata dan terukur dalam  penangangan stunting agar dikemudian hari tidak ada lagi anak-anak Timor Tengah Utara yang masuk dalam kategori stunting.

Mengakhiri sambutannya, Bupati Juandi mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan BBGRM ini telah diliput dan disiarkan secara langsung oleh TV Biinmaffo yang telah berbasis digital.

"Dengan siaran berbasis digital ini, masyarakat kita akan semakin mudah dalam memperoleh informasi. Maka saya harapkan semua pihak mendukung program pemerintah  dalam mengakselerasi kegiatan pembangunan daerah. Saya mengajak semua komponen masyarakat TTU untuk membangun komitmen bersama melestarikan budaya gotong royong serta membangun keluarga yang sejahtera dan harmonis sebagai fondasi yang kuat bagi pembentukan kualitas dan karakter Sumber Daya Manusia,"pungkasnya.

Lius Salu, editor : Kristo Ukat

Hits: 306

Traffic

  • IP: 3.238.252.196
  • Browser: unknown
  • Browser Version: unknown
  • Operating System: unknown