A. SEJARAH KOTA KEFAMENANU
Sebelum kedatangan Belanda, Kerajaan Us Kono (Ama Kono) di Miomaffo diperintah oleh raja-raja Afoan Kono/Toamnanu, Mambai Kono (Mambai Lemun), dan Ni Suan Kono yang disebut juga Ni Suan Manat.
Zaman ketiga raja terdahulu ini, yakni Us Kono dan Oematan berada di bawah Sonbay, sejak Nai Faluk (Falukis Belu) mendirikan konfederasi kerajaan-kerajaan (kekaisaran) di Let’aes’am-Bijela.
Sebelum Noetoko, pusat Kerajaan Ama Kono di Miomaffo terletak di Sito yakni di lereng Gunung Binoni, yang kemudian disebut Miomaffo itu. Dari Sito dan Bilipu berpindah ke Falon-Nonomes’okan, ke Nunumtasa, dan akhirnya Noetoko-Finisba, yang disebut Upnuku-Letnuku, Puatoko-Noetoko, Faotbena-Taennaob.
***
Para penguasa Sonbay di Let’aes’am Bijela secara turun temurun terkenal tiranis atau lalim, karena pada setiap tahun tama maus, setiap bawahan harus menunjuk seorang Meo Naek yang siap dikorbankan. Sikap dan perilaku ini menimbulkan dendam di hati Kono-Oematan, untuk membunuh Sonbay. Dendam ini kemudian diketahui Sonbay melalui petunjuk 2 (dua) buah mangga. Maka pada waktu tama maus tahun berikutnya, Kono Ana dari Sito dijemput ke Let’aes’am-Bijela dan dibunuh secara kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Pada saat tama maus, dan pihak Us Kono sudah tahu bahwa Kono Ana dibunuh dengan sangat kejam dan di luar perikemanusiaan, maka pembunuhan Sonbay dipancing dengan Nel Bonet yang berbunyi: Tol-tol I moe kau neu fafi nui nak meto, bijae nui nak meto. Lof taleu taof tolas oenam-nikut oenam.
Kemudian Kono-Oematan, mengangkat sumpah adat (nait fanu) untuk menghilangkan Sonbay yang berbunyi: Tefu sufan napau neno, uki napan napu naijan. Lalu Ten Olla dari Miomaffo yang ditugaskan membunuh Sonbay, yakni Luis Bao Sonbay, bersama-sama dengan meo – meo (para panglima perang) lain membunuh semua orang dalam seisi istana, dan hanya menyisakan seorang bayi laki-laki. Ten Olla kemudian mengganti nama menjadi Nai Sab Neno yakni Meo naek Salu – Miomaof le nasab Neno Anan.
***
Atas Peristiwa ini, bulan Januari 1749, Us Kono yang merasa terancam oleh kerajaan-kerajaan lokal lain dan kaes metan yang sudah berpihak kepada Sonbay, meminta perlindungan pada Belanda di Kupang.
Belanda membuktikan persetujuan dan perlindungannya kepada Us Kono dengan menyerahkan sebuah bendera dan 2 buah tongkat emas. Walaupun demikian, Belanda sangat berhati-hati masuk ke pedalaman Timor, karena beberapa ekspedisi militernya digagalkan, baik oleh kaesmetan, raja-raja lokal, maupun oleh orang-orang Sonbay sendiri. Belanda baru berani memasuki pedalaman, dan mendirikan markas militernya di Kapan, setelah kelelahan kaesmetan dan raja-raja lokal pada Perang Penfui yang dipimpin Letnan Geberal Gaspar da Costa (dari Noemuti) pada Bulan Nopember 1749.
Pada awal abad ke-20 ketika Sobe Sonbay II dan Sobe Sonbay III ditaklukkan bersama Meo-meonya dan dibuang ke Batavia dan Sumba, baru Belanda berani bermarkas di pedalaman Timor. Dengan ditangkapnya Sobe Sonbay III, kedua anaknya kemudian memperebutkan tahta ayahnya di Bikauniki yakni Fatu Pupmolo-Bikaunik, Hube–Pupmolo Bikaunik.
Kemudian anak-anak dari Sobe Sonbay melarikan diri ke Mollo dan membangun kekuatan baru di Kerajaan Oenam dengan Nes Pantola sebagai Meo Naeknya. Dari markasnya di Kapan-Neofmeu, Kumlol-Kaekoli, Belanda terus mengikuti sepak terjang Sobe Sonbay dan pengikut-pengikutnya.
Belanda terus mengejar anak-anak Sobe Sonbay hingga ke wilayah Miomaffo (tepatnya di Oelkunu-Suanae), tetapi anak-anak Sobe Sonbay sudah dilindungi oleh Us Kono dan mengganti nama menjadi Sobe Kono.
Oenunu Kono I yang sudah tua itu bersama-sama tua adatnya yang terdiri dari Haekase-Faimnasi, Sonlai Mone-Sonlai Feto, yang didampingi para Meo Naek, yakni: Poli-Maf, menemui Belanda di Oelkunu, lalu bersama-sama melakukan iup kenat (gencatan senjata) tahun 1908.
Kemudian Letnan Coonmetz, yang memimpin pasukan Belanda dalam pengejaran itu, mendapat persetujuan Us Kono, memindahkan markas militernya ke Noetoko Tahun 1909.
Antara tahun 1910 – 1911, pemerintah militer Belanda melakukan survey pembuatan peta wilayah untuk menindaklanjuti perintah membentuk daerah-daerah otonom dalam wilayah jajahan belanda serta melibatkan kaum pribumi dalam pemerintahan lokal. Peta tersebut berhasil dirampungkan pada bulan juni 1911. Atas dasar itu, pada 1915 terbentuk Onderafdeling Noord Midden Timor membawahi 3 wilayah swapraja yaitu Biboki, Insana dan Miomaffo. Pelibatan kaum pribumi dalam pemerintahan daerah dikukuhkan dengan menandatangani korte verklaring (pernyataan pendek). Kornel Kau Mauk Manlea sebagai kepala swapraja Biboki membubuhkan tanda tangannya pada tanggal 17 Juni 1916, berikut Kornel Kahlasi Taolin sebagai kepala swapraja Insana pada tanggal 24 Desember 1916 dan Kornel Oenunu Kono III sebagai kepala swapraja Miomaffo pada tanggal 10 Oktober 1917.
Secara berturut-turut para raja di kerajaan Ama Kono di Noetoko,
adalah sebagai berikut:
- Oenunu Kono II : berkuasa di Noetoko sampai tahun 1917
- Oenunu Kono III : 1917-1920
- Kefi Lelan /Lusia Lelan : 1920-1938
Oleh anak-anak Oenunu Kono II masih kecil-kecil (fe tuk-tuk in pal-pal’in) maka Kefi Lelan yang adalah mafefa dari Ambenu yang keponakan dari Us Kono sendiri di Miomaffo menjadi raja sekaligus kepala Swapraja Miomaffo. Pada zamannya, selain letak geografis yang sempit, juga wabah malaria merajalela sehingga penguasa Belanda mulai berinisiatif mencari tempat yang strategis guna mendirikan pusat pemerintahan Onderafdeeling Noord Midden Timor.
- Sobe Sanak (Nimasi) : Menggantikan Kefi Lelan dari tahun 1938 – 1954
- Gaspar Afoan Kono : Pewaris tahta kerajaan Miomaffo dari tahun
1954 – 1962
Ketika keluar dari Noetoko, pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Sketel Olifield yang disebut juga Letnan Teb-tebes, singgah dan menetap di beberapa tempat yang sempat dilalui, yakni: Noetoko-Oetulu-Nilulat-Oefui-Fatuknapa-Neten Ukimnatu-Buk-Haumeni-Oeapot (poto naek-pot ana).
Tidak lama bermarkas di Haumeni-Oeapot, kemudian berpindah ke Oeekam-Fatusene, di wilayah Tunbaba, tepatnya di lereng gunung Mamun-Femnasi, Maunmuti-Faotao-Oeleten. Di sini didirikan sebuah kantor atau markas, sebuah sekolah setingkat SR di Nono Nainus. Ada pula seorang anggota pasukan yang meninggal dunia dan dikuburkan di Toi, antara Mamun dan Maunmuti. Hanya dua tahun atau dua kali Ul upu (musim hujan), Belanda bermarkas di Oeekam, tetapi sudah mulai membangun jalan raya menuju Pantai Wini.
Namun karena tempatnya tidak strategis serta cuaca musim barat (musim hujan) yang sangat buruk setiap tahun maka upaya untuk berpindah terus dilakukan. Dari Fatusene-Oeekam, Belanda melakukan survei ke Nunpene (Nunu pene artinya beringin tempat memantau), dan akhirnya terus turun ke Mat-manas (yakni di belakang pasar baru Kefamenanu sekarang ini). Di Matmanas ada sebuah markas dan ada pula seorang anggota pasukan yang meninggal dunia. Tetapi karena letaknya di pinggir kali yang terancam banjir dan longsor, maka survei terus dilakukan ke Tele-Kefamenanu. Kata “Tele” dari Kata ntel’on, tempat strategis di Kantor Kimpraswil sekarang yang ditempati oleh Usi Neti Bana. Sedangkan “Kefamnanu” adalah sebuah liukan kali yang membentuk pusaran air dan tebing curam.
Atas persetujuan bersama antara Tunbaba dan Bikomi, maka dibangunlah pusat pemerintahan Onderafdeeling Noord Midden Timor di Aplasi sebagaimana bunyi tutur adat: n’ap nabuab lasi-n’ap nabuab toni, he to ma tafa nekaf mese-ansaof mese, hune naka mese, oele mata mese, tilun mese-o’af mese, tabela faotbena-tanaeb ukan ma plenat nbi tel’in Kefamnanu.
Pada tanggal 22 September 1922, markas militer sekaligus kantor sementara pemerintahan Belanda mulai dibangun di Tangsi Polisi Lama, (yakni Rumah Jabatan Waka Polres TTU sekarang). Batas Kota Kefamenanu waktu itu mulai dari Tangsi Polisi-Penjara lama-PLN lama-Rumah Bapak Dimatnusa-Apotek Surya-Rumah Jabatan Bupati TTU.
Tahun 1933 dibangun kantor Onderafdeeling Noord Midden Timor oleh Tuan Peddemors, juga pembukaan jalan raya ke Noetoko yang dikerjakan oleh rakyat dari ketiga swapraja yakni Miomaffo, Insana, dan Biboki.
B. GAMBARAN UMUM
1. Kondisi Geografis
Kabupaten Timor Tengah Utara adalah salah satu Kabupaten dari 6 (enam) Kabupaten/Kota yang ada di daratan Timor dan 22 (dua puluh dua) Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Timor Tengah Utara terletak diantara 9º 02’ 48’’ LS – 9º 37’ 36’’ LS dan antara 124º 04’ 02’’ BT – 124º 46’ 00’’ BT, dengan luas wilayah 2.662 Km2. Batas – batas wilayah adalah sebagai berikut:
- Utara berbatasan dengan Laut Sawu dan Republik Demokratik Timor Leste;
- Timur berbatasan dengan Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka;
- Selatan berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan;
- Barat berbatasan denga Kabupaten Kupang.
Sesuai dengan klasifikasi iklim oleh Schmidt dan Ferguson Kabupaten Timor Tengah Utara termasuk wilayah iklim tipe D (iklim semi arid) dengan koefisien 2 sebesar 71,43 % atau beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim kemarau dan hujan. Curah hujan rata-rata pada tahun 2021 sebesar 1.653,4 mm/tahun dengan jumlah rata-rata hari hujan adalah 115 hari/tahun. Suhu udara berkisar antara 18º – 35º C, kelembaban udara 41-100 % dan intensitas penyinaran matahari 38-83 %.
2. Kondisi Demografis
Berdasarkan Timor Tengah Utara Dalam Angka Tahun 2025, jumlah penduduk di Kabupaten Timor Tengah Utara sebanyak
276.032 jiwa yang terdiri dari 137.887 laki-laki dan 138.145 perempuan yang tersebar di 24 Kecamatan. Jumlah penduduk paling banyak terdapat di Kecamatan Kota Kefamenanu, yaitu sebanyak 49.673 jiwa atau 18% dari jumlah penduduk di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Sebagian besar masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara mengandalkan perekonomiannya melalui sektor pertanian dan peternakan. Hal ini dapat dilihat bahwa sektor pertanian menyumbang PDRB terbesar untuk pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Kabupaten Timor Tengah Utara memiliki suku asli yaitu suku Dawan dan menggunakan bahasa Dawan. Sejalan perkembangan yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara, sejumlah suku dan etnis yang berasal dari luar TTU hidup dan berkembang mewarnai keberagaman dan kemajemukan masyarakat TTU seperti Timor Leste, Belu, Soe, Rote, Sabu, Alor, Sumba, Flores, Manggarai, Cina, Jawa, Bali, Sulawesi, Bima/NTB, Maluku, Sumatera, dan lain – lain.
Kemajemukan ini menyebabkan ragam bahasa dan budaya yang dimiliki masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara, termasuk salah satunya penyebaran agama. Agama yang berkembang pun terdiri dari agama Katolik yang merupakan mayoritas, Kristen Protestan, Islam, Hindu dan Budha. Kemajemukan ini berjalan secara harmonis karena tingginya rasa tenggang rasa dan menghormati antar sesama di Kabupaten TTU ini.
3. Pemerintahan
Untuk pemerintahan, Kabupaten Timor Tengah Utara terdiri dari 58 Perangkat Daerah, 182 Desa dan 11 Kelurahan. 58 Perangkat Daerah ini terdiri dari 2 Unsur Sekretariat, 24 Dinas, 7 Unsur Penunjang/Badan Daerah, 1 Inspektorat, 1 RSUD dan 24 Kecamatan. Jumlah Aparatur Sipil Negara di Kabupaten Timor Tengah Utara sebanyak 6.212 orang yang terdiri dari 2.531 laki-laki dan 3.681 perempuan.
C. POTENSI WISATA
- Obyek Wisata
- Pantai Tanjung Bastian (wisata bahari) Kec.Insana Utara
- Pantai Oebubun (wisata bahari) Kec.Biboki Moenleu
- Pantai Batu Putih (wisata bahari) Kec. Biboki Anleu
- Padang Tunnoe (wisata alam) Kec. Miomaffo Timur
- Benkoko (wisata alam) Kecamatan Insana
- Oeluan (wisata alam) Kecamatan Noemuti
- Gua Suti (wisata budaya) Kec. Miomaffo Tengah
- Oebikase (wisata alam) Kec. Bikomi Tengah
- Gua Sasi (wisata alam) Kecamatan Kota Kefamenanu
- Rumah Adat Maslete (wisata budaya) Kec. Kota Kefamenanu
- Rumah Adat Nilulat (wisata budaya) Kec. Bikomi Nilulat
- Sonaf Maubesi (wisata budaya) Kec. Insana Tengah.
- Sonaf Oelolok (wisata budaya) Kec. Insana.
- Tamkesi (wisata budaya) Kec. Biboki Selatan.
- Kuburan Raja Sonbay (wisata budaya) Kec. Noemuti.
- Sumur St. Fransiskus (wisata religius) Kec. Insana Utara.
- Air Terjun Besin (wisata alam) Kec. Insana.
- Bukit Tuamese (wisata alam) Kec. Biboki Anleu.
- Air Terjun Pah Koto (wisata alam) Kecamatan Mutis.
- Gua Bitauni (wisata rohani) Kecamatan Insana.
- Seni Budaya
- Tarian Likurai Biboki
- Tarian Likurai Fehan dan Foho
- Tarian Tebe
- Tarian Bonet
- Tarian Bidu
- Tarian Gong
- Tarian-tarian kreasi baru yang diciptakan oleh sanggar-sanggar yang ada.
- Akomodasi
| NO | NAMA PENGINAPAN/HOTEL | ALAMAT |
| 1. | Losmen Setangkai | Jl. Ketumbar, Tlp. 0388 31217 |
| 2. | Laat Manekat | Jl. Kefamenanu – Atambua |
| 3. | Hotel Frawijaya | Jl. Ketumbar, Tlp. 0388 316698 |
| 4. | Hotel Ariesta | Jl. Basuki Rahmat, Tlp. 0388 31007 |
| 5. | Hotel Cendana | Jl. Sonbai, Tlp. 0388 31168 |
| 6. | Hotel Livero | Jl. El Tari, Tlp. 0388 2332 222 – 121 |
| 7. | Hotel Grand Royal | Jl. Eltari |
| 8. | Hotel Litani | Jl. Eltari |
| 9. | Hotel Victory I | Jl. Basuki Rahmat |
| 10. | Hotel Victory II | Jl. Eltari |
| 11. | Comfort Inn | Jl. Kartini |
| 12. | Resort Marjon | Wini |
- Restoran/Rumah Makan/Warung Makan/Depot/Kafe
| NO | NAMA RUMAH MAKAN | ALAMAT |
| 1. | Victory Resto | Jl. Basuki Rahmat |
| 2. | Comfort Inn Restoran | Jl. Eltari Km. 1 |
| 3. | Rumah Makan Roda Baru | Jl. Eltari Km. 3 |
| 4. | Rumah Makan Padang II | Jl. El Tari Tlp. 0388 31641 |
| 5. | Rumah Makan Cita Rasa | Jl. Soekarno Tlp. 0388 31120 |
| 6. | Rumah Makan Kota Sari | Jl. Sisingamangaraja |
| 7. | Rumah Makan Padang Santika Raya | Jl. El Tari Tlp. 0388 2332586 |
| 8. | Rumah Makan Juragan Sambel Mas Madi | Jl. Eltari Km. 4 |
| 9. | Rumah Makan Putra Surabaya | Jl. Eltari |
| 10. | Rumah Makan Padang Saiyo | Terminal, Kefamenanu Selatan |
| 11. | Rumah Makan Edy Jaya | Jl. Eltari |
| 12. | Rumah Makan Padang Baru | Jl. Eltari Km. 7 |
| 13. | Rumah Makan Simbuang | Jl. Eltari Km. 5 |
| 14. | Rumah Makan Pondok Selera | Jl. Eltari Km. 4 |
| 15. | Rumah Makan Sedap Rasa | Desa Humusu Wini |
| 16. | Rumah Makan Putra Lamongan | Desa Humusu Wini |
| 17. | Rumah Makan Putri Lamongan | Desa Humusu Wini |
| 18. | Rumah Makan Sinar Wini | Desa Humusu Wini |
| 19. | Rumah Makan Arsita | Kiupukan |
| 20. | Warung Murah | Jl. Eltari Km. 3 |
| 21. | Warung Tersera | Km. 6 Jurusan Kupang |
| 22. | Warung Lestari | Jl. Eltari |
| 23. | Warung Restu Mulia | Km. 4 Jur. Kupang,Tlp. 0388 31473 |
| NO | NAMA RUMAH MAKAN | ALAMAT |
| 24. | Warung Wilis | Jl. Eltari, Kel. Benpasi |
| 25. | Warung Mas Edi | Jl. Eltari Km. 2 |
| 26. | Warung Pojok | Jl. Kartini, Km. 1 |
| 27. | Warung Malfinas | Jl. Kartini, Km. 1 |
| 28. | Warung Pindang Musirawas | Jl. Sonbay |
| 29. | Warung Pak Kumis | Jl. Hasanudin Km. 4 Jur. Kupang |
| 30. | Warung Babat Jaya | Jl. Sonbay |
| 31. | Warung Nabas 76 | Jl. Kartini, Km. 1 |
| 32. | Warung Ega Jaya | Jl. Eltari |
| 33. | Warung Bakso Putra Babad | Jl. Semangka 2 Kefamenanu Selatan |
| 34. | Warung Cinta Kasih | Terminal, Kefamenanu Selatan |
| 35. | Warung Bersukur | Terminal, Kefamenanu Selatan |
| 36. | Warung Anggur Ceria | Jl. Eltari Km. 4 |
| 37. | Warung Dua Putra | Terminal, Kefamenanu Selatan |
| 38. | Warung Sederhana | Terminal, Kefamenanu Selatan |
| 39. | Warung 3 Bersaudara | Terminal, Kefamenanu Selatan |
| 40. | Warung Nur Siana | Kelurahan Kefamenanu Selatan |
| 41. | Warung Solo Baru | Kelurahan Benpasi |
| 42. | Warung Sami Jaya | Kelurahan Benpasi |
| 43. | Warung Maknyuss | Kelurahan Benpasi |
| 44. | Warung Lamongan | Jl. Eltari |
| 45. | Warung Barokah | Jl. Eltari |
| 46. | Warung Mas Yono | Jl. Eltari Km. 7 Jurusan Kupang |
| 47. | Warung Dua Putri | Jl. Eltari Km. 9 |
| 48. | Warung Dua Putri | Jl. Eltari Km. 7 Jurusan Kupang |
| 49. | Warung Nuni | Jl. Eltari Km. 6 Jurusan Kupang |
| 50. | Warung Mutiara | Kelurahan Maubeli |
| 51. | Warung Bima | Jl. Eltari Km. 4 |
| NO | NAMA RUMAH MAKAN | ALAMAT |
| 52. | Warung Bakso 99 | Jl. Eltari Km. 3 |
| 53. | Warung Libas | Desa Humusu Wini |
| 54. | Warung Om Didi | Desa Oepuah Utara |
| 55. | Warung Estu Echo | Desa Humusu Wini |
| 56. | Warung Sabar Nerimo | Desa Humusu Wini |
| 57. | Warung Surabaya | Eban |
| 58. | Warung Suka Jadi | Eban |
| 59. | Warung Farma | Kiupukan |
| 60. | Warung Madura | Nenbonak |
| 61. | Warung Timbul Jaya | Nesam |
| 62. | Warung Rasa Sayang | Desa Humusu Wini |
| 63. | Warung Rayhan | Kiupukan |
| 64. | Warung Latim | Kiupukan |
| 65. | Depot Mutis | Jl. Ketumbar |
| 66. | Depot Amor | Jl. Kartini, Km. 1 |
| 67. | Depot Caca | Jl. Kartini, Km. 1 |
| 68. | Depot Se’i Babi Anugerah | Jl. Basuki Rahmat |
| 69. | Depot Ceria | Jl. Eltari Km. 3 |
| 70. | Depot Dewata | Jl. Ketumbar |
| 71. | Ayam Geprek 88 | Jl. Eltari Km. 4 |
| 72. | Rocket Chicken | Jl. Eltari Km. 4 |
| 73. | King’s Bakery | Jl. Eltari Km. 4 |
| 74. | Kafe dan Restoran Kopi Dari Hati | Jl. Eltari, samping Minimarket KCS |
| 75. | Kafe dan Restoran Platinum | Jl. Eltari Km. 4 |
| 76. | Kafe Expresso | Jl. Kartini (Jabal Mart) |
| 77. | Kafe dan Restoran CFC | Jl. Eltari Km. 4, samping klinik dr. Nining |
| 78. | Kafe Bamboo | Jl. Kenari |
| NO | NAMA RUMAH MAKAN | ALAMAT |
| 79. | Kafe Sister Hood | Jl. Eltari Km. 2 |
| 80. | Kafe Beckhaus | Jl. Eltari Km. 2, Simpang Tulip |
| 81. | Kafe Bro Sis | Jl. Eltari Km. 4 |
- Cinderamata
- Toko Megaria, Jl. Ketumbar, Tlp. (0388-31061)
- Sarwo Star, Jl. Kemiri, Tlp. (0388-31213)
- Manek Tob, Jl. El Tari, Tlp. (0388-31081)
- UKM Feotnai Matani Jl. El Tari Depan Bank NTT Cabang Kefamenanu.
- Galeri Lopo Bikomi, Jl. Eltari Km. 4
- Butik Deos Collection, Jl. Basuki Rahmat depan Kantor BPS
- Galeri Ike Suti, Jalan masuk depan SMPN 1 Kefamenanu
- Laterre, Kelurahan Kefamenanu Tengah
- Artshop Kefa Indah, Jl. Ahmad Yani Kelurahan Kefamenanu Selatan
- Café Bitauni, Kelurahan Bitauni